Sejumlah Orang Tua Murid SDN 1 Cipanas Keluhkan Maraknya Pungli Hingga Mahalnya Buku Pelajaran -->

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Sejumlah Orang Tua Murid SDN 1 Cipanas Keluhkan Maraknya Pungli Hingga Mahalnya Buku Pelajaran

Selasa, 17 September 2019
CIANJUR - Cek Update 
Meski pemerintah pusat melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) telah melarang keras kepada pihak sekolah maupun dinas pendidikan untuk tidak melakukan praktek jual beli buku kepada siswa.

Sebagaimana larangan tersebut tertuang di dalam peraturan mentri pendidikan nasional nomor 2 tahun 2008, tentang larangan tenaga pendidik, baik guru atau dinas pendidikan secara langsung atau tidak langsung menjual atau menjadi distributor buku sekolah lembar kerja siswa (LKS) maupun buku paket, namun larangan tersebut ternyata belum sepenuhnya di laksanakan oleh Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Cipanas Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Munculnya praktek jual beli buku paket, LKS hingga pungutan untuk akreditasi sekolah, terkuak saat sejumlah orang tua murid  SDN 1 Cipanas itu mengungkapkannya kepada CekUpdate. Salah satu orangtua murid kelas IV yang enggan disebutkan namanya, mengeluhkan mahalnya harga buku paket pelajaran yang dijual pihak sekolah, menurutnya buku-buku paket ajaran baru yang dijual sekolah mencapai ratusan ribu rupiah.

"Harga buku paket nya mencapai Rp 700 ribu, jelas secara pribadi sangat memberatkan bagi orangtua, apalagi anak saya tidak hanya satu yang sekolah disitu,"tuturnya saat di konfirmasi di kediaman.

Dia mengatakan,meski pihak sekolah tidak mewajibkan muridnya untuk membeli buku paket tersebut, namun semua bahan mata pelajaran yang di ajarkan oleh guru kelas semuanya bersumber dari buku yang dijual pihak sekolah.

"Termasuk kalau ada pekerjaan rumah (PR) yang berikan dari sekolah ada di lembar buku paket itu, jadi Mau tidak mau kami dengan sangat terpaksa harus membelinya," ujarnya.

Hal senada pun di ungkapkan YN, salah satu orang tua murid kelas 1 menjelaskan,awal pertama masuk sekolah anaknya harus dibebani membayar buku paket sebesar Rp 600 ribu.

"Harga tersebut sudah termasuk buku lembar kerja siswa (LKS)," terangnya

Lanjut YN, selain harus membayar sejumlah buku paket, pihaknya juga harus dibebankan membayar iuran untuk kegiatan akreditasi sekolah senilai 2 juta lebih untuk satu kelas.

"Jujur saya jadi bingung, katanya sekolah gratis selama 9 tahun tapi masih aja ada hal-hal semacam ini yang dibebankan kepada kami, lagian perlu diketahui tidak semua orang tua murid hidup ekonominya di atas rata rata."keluhnya.

Sementara itu Kepala sekolah SDN 1 Cipanas Yayan Sopyan mengakui jika di sekolahnya yang ia pimpin saat ini, praktek jual beli buku paket dan LKS kepada muridnya memang ada, namun Yayan berdalih jika penawaran buku paket tersebut hanya untuk murid yang bersedia membeli saja.

"Sekolah tujuannya hanya membantu memfasilitasi saja, bagi yang minat silahkan kalau tidak pun tidak jadi masalah," ungkapnya

Yayan menambahkan, sementara mengenai adanya iuran kegiatan untuk kegiatan akreditasi disekolahnya kemarin.

Pihaknya membantah tidak pernah memberikan intruksi kepada setiap wali kelas atau komite sekolah untuk melakukan pungutan tersebut kepada murid.

"Kalau mengenai iuran akreditasi silahkan di tanyakan kepada wali kelas masing masing, kalaupun ada dari orang tua atau komite mungkin itu sifatnya hanya membantu saja," pungkasnya.


Reporter : Dedy