Kasus "Telecome Fraud", Pelaku Silih Berganti Masuk Ke Indonesia Dengan Visa Wisata

Iklan Semua Halaman

Header Menu

Kasus "Telecome Fraud", Pelaku Silih Berganti Masuk Ke Indonesia Dengan Visa Wisata

Rabu, 27 November 2019
JAKARTA - Cek Update
Pasca penangkapan jaringan penipu online yang melibatkan puluhan Warga Negara Asing (WNA) asal Cina, Kepolisian Daerah Metro Jaya mengungkapkan sistem kerja jaringan tersebut dalam menjalankan aksinya di Indonesia. Menurut hasil penyidikan, mereka keluar masuk Indonesia secara bergantian selama 3 bulan sekali menggunakan visa wisata. 

"Mereka punya jaringannya sendiri di Cina, WN Cina yang berada di Indonesia ini kerap berganti-ganti setiap 3 bulan sekali, mereka keluar masuk negara kita menggunakan visa wisata," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus kepada wartawan,  selasa (26/11/2019).

Lebih lanjut, perwira dengan melati tiga di pundaknya ini mengatakan usai menjalankan aksinya kelompok itu mengirim uang hasil penipuan langsung ke kelompoknya yang berada di Cina.

"Itu sistemnya penipuan menggunakan telepon online. Nanti setelah ditransfer, uangnya masuk ke rekening di Cina sana," ujarnya.

Di tempat yang sama, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Dr. Gatot Eddy Pramono M.Si menyebutkan bahwa kasus "Telecome Fraud" jaringan penipuan yang dilakukan oleh WN Cina diperkirakan mendapatkan untung sebanyak 36 miliar rupiah. 

"Dari hasil investigasi yang kita lakukan sementara adapun kerugian yang dialami mencapai 36 miliar rupiah," ujarnya kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta.

Dia juga mengatakan kerugian yang dialami korban bisa saja bertambah. Jaringan penipuan ini menyasar korban-korbannya yang berdomisili di Cina. 

Atas perbuatannya, para tersangka terjerat Pasal 30 Junto Pasal 45 dan Pasal 32 Junto Pasal 48 atau Pasal 35 Junto Pasal 51 UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang ITE atau Pasal 378 KUHP.

Guna proses penyidikan lebih lanjut terhadap kasus tersebut, pihak Polda Metro Jaya masih berkomunikasi dengan Mabes Polri dan Polisi Cina terkait penahanan para tersangka.

Reporter : Dasep
Editor : Yudi Prangga